HomeBlogInformasiPenyembuhan Vaginismus Tidak Memerlukan Operasi

Penyembuhan Vaginismus Tidak Memerlukan Operasi

Penyembuhan Vaginismus Tanpa Operasi.

Penantian 4 Tahun yang Berbuah Manis.

Ibu Nurma menghubungi saya melalui pesan singkat Whatsapp.

Ia dan suaminya telah menikah selama 4 tahun, dan belum pernah berhasil melakukan hubungan seks, begitu pula pemeriksaan dokter kandungan tidak pernah bisa dilakukan.

Seperti menabrak dinding. Penetrasi tidak pernah bisa terjadi.

Berbagai upaya telah dijalani Ibu Nurma untuk vaginsmus yang dialaminya. Ia telah berobat ke berbagai dokter, ahli seksologi, dokter kandungan ahli kesuburan, psikiater, dan hipnoterapis, namun belum mendapatkan hasil yang menggembirakan, Ia tetap saja tidak bisa dilakukan penetrasi.

Dari komunikasi awal, tergambar jelas Ibu Nurma sudah ada dalam keadaan frustrasi yang mendalam atas vaginismus yang dialaminya. Tekanan besar juga dirasakan datang dari orang-orang sekitar yang terus menerus bertanya kenapa belum memiliki momongan, dan seolah-olah menagih mereka untuk segera hamil. Mungkin karena hampir putus asa, mereka memutuskan untuk mencoba ikut program inseminasi (program hamil dengan teknik penyuntikkan sperma langsung ke dalam rongga rahim), namun karena inseminasi juga memerlukan tindakan melalui penetrasi vagina, hal itu pun tak kunjung dapat dilakukan.

Mereka seperti menemui jalan buntu.

Setelah berkomunkasi dengan Ibu Nurma, akhirnya ia bersedia menemui saya di Bandung, ditemani oleh suaminya yang sangat penyayang dan pengertian, kami berbincang lama tentang apa yang mereka alami.

Setelah menjalani konsultasi dan pemeriksaan, akhirnya diketahui Ibu Nurma menderita vaginismus derajat 5. Penetrasi terhadap vagina tidak dapat terjadi, walaupun ia sudah berupaya menenangkan diri semaksimal mungkin.

Pada seluruh kasus vaginismus, memulai dilatasi dengan dilator adalah satu-satunya solusi dalam penyembuhannya. Namun pada kenyataannya pada vaginismus yang parah (derajat 2 ke atas) sekeras apapun seorang pasien mencoba melakukan dilatasi sendiri, ia tidak pernah berhasil. 

Atas dasar itulah penderita vaginismus dengan derajat keparahan tinggi memerlukan prosedur bantuan yang dapat membuat dilatasi pasti terjadi, cepat, dan tanpa rasa sakit.

Saya menyarankan Ibu Nurma untuk mengikuti prosedur Botox Ginekologis (dilatasi berbantu) yang dilakukan di RSIA Limijati Bandung. Tujuan dari dilakukannya prosedur ini adalah agar ia dapat segera memulai proses dilatasi yang merupakan elemen terpenting dalam penyembuhan vaginismus. 

Prosedur ini sangat sederhana, aman, dan tidak menggunakan operasi/sayatan di vagina.

Setelah prosedur selesai dilakukan, Ibu Nurma terbangun dalam keadaan dilator terbesar sudah terpasang di dalam vaginanya. Dan hanya dalam waktu beberapa jam setelah prosedur, Ibu Nurma telah berhasil melakukan dilatasi sendiri menggunakan dilator, dan dapat berlatih dilatasi secara mandiri. 

Seakan tidak percaya, Ibu Nurma berkali-kali memastikan kepada saya apakah benar ia telah dapat melakukan dilatasi mandiri. Wajahnya berubah ceria dipenuhi harapan dan kebahagiaan setelah keputusasaannya selama ini.

Di rumah, Ibu Nurma secara rutin berlatih melakukan dilatasi mendiri. Saya terus memantau perkembangannya, sambil terus memberikan arahan apabila ia menemukan hambatan dalam berlatih dilatasi di rumah.

Sampai suatu ketika, kurang lebih hanya satu bulan setelah menjalani prosedur itu di Bandung, suaminya mengirimkan pesan Whatsapp kepada saya,

“Dok, mau mengabari sekaligus mengucapkan terima kasih, Alhamdulillah kami sudah berhasil melakukan intercourse”

Saya mengucapkan selamat sambil merasa haru sekaligus bahagia mengetahui keberhasilan Ibu Nurma dan suaminya dalam mengalahkan vaginismus.

*Cerita di atas adalah nyata, namun nama yang tercantum bukanlah nama sebenarnya.

Vaginismus merupakan keadaan rasa takut berlebihan terhadap terjadinya penetrasi (setiap bentuk benda atau organ yang masuk ke vagina) disertai terjadinya kaku otot pada area kewanitaan, sehingga penetrasi terhadap vagina tidak dapat terjadi.

Penetrasi bukan hanya berkaitan dengan hubungan seksual, namun juga dalam bentuk lain seperti penggunaan tampon haid, memasukkan jari sendiri, serta pemeriksaan rutin oleh dokter spesialis kandungan, yaitu pemeriksaan dalam dan USG transvaginal.

Penderita vaginismus umumnya mengalami hal yang sama, mereka tidak bisa melakukan hubungan intim sekalipun telah menikah dan mencoba terus menerus, selain itu mereka pun tidak bisa dilakukan pemeriksaan oleh dokter kandungan.

Vaginismus sangat mungkin untuk disembuhkan.

Berbagai teknik ataupun metode penyembuhan untuk vaginismus sudah cukup dikenal, seperti psikoterapi, konseling, hipnoterapi, relaksasi, latihan Kegel, penanganan kecemasan dan depresi, menggunakan dilator secara mandiri, dan lain-lain. Keseluruhan metode itu memiliki target akhir berupa penderita dapat mulai melakukan dilatasi mandiri dengan menggunakan dilator.

Pada vaginismus yang derajatnya ringan, pasien akan dapat memulai dilatasi tanpa bantuan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Namun pada vaginismus dengan derajat tinggi, seringkali berbagai metode tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Prinsip dasar penyembuhan vaginismus sangatlah sederhana, yaitu melakukan latihan dilatasi dengan dilator. Namun tidak seluruh pasien dapat memulainya sendiri. Jangankan dapat memulai dilatasi sendiri, baru memikirkan dilator beserta proses penetrasi yang akan dilalui saja sudah sering membuat para penderita merasa tidak sanggup melakukannya. Reaksi seperti itu bukan karena mereka tidak mau, namun karena memang mereka tidak bisa melakukannya. Reaksi penolakan yang terjadi pada seorang penderita vaginismus dalam menghadapi penetrasi bukanlah sesuatu yang dapat mereka kendalikan. Mereka tidak menginginkan hal itu terjadi.

Untuk dapat menghilangkan hambatan tersebut, dilatasi haruslah dimulai dengan bantuan, berupa prosedur dilatasi berbantu.

Teknik dilatasi berbantu diprakarsai oleh Peter T. Pacik, MD., FACS (seorang dokter spesialis bedah plastik ternama yang memiliki sertifikasi ganda dalam ilmu bedah, yang merupakan pionir dalam penyembuhan vaginismus di Amerika Serikat). Prosedur ini merupakan metode yang aman, sistematis, berdasar keilmuan kedokteran, dan objektf, dengan tingkat keberhasilan mencapai 90% (www.vaginismusmd.com). Saat ini prosedur dilatasi berbantu juga telah rutin dilakukan pada penderita vaginismus di RSIA Limijati Bandung

Prosedur ini memungkinkan penderita vaginismus derajat berapapun untuk dapat memulai dilatasi mandiri dengan dilator secara pasti, cepat, dan bebas rasa sakit. Selanjutnya penderita vaginismus akan dengan mudah melakukan latihan dilatasi agar penetrasi lebih mudah terjadi. 

dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG

LinkedIn Profile

Support Vaginismus

Respect Vaginismus

*tulisan ini pernah dimuat di www.addamhealth.co – Tiara Kirana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *