HomeBlogInformasiApakah Pasangan Anda Menderita Vaginismus?

Apakah Pasangan Anda Menderita Vaginismus?

Sudah Betahun-tahun menikah, tapi belum pernah bisa berhubungan seks

Apakah Pasangan Anda Menderita Vaginismus?

  • Apakah pasangan Anda memiliki rasa takut/nyeri yang membuatnya tidak bisa melakukan hubungan seks dan bentuk penetrasi lainnya?
  • Saat akan melakukan hubungan seksual, Anda tidak pernah berhasil memasukkan penis ke dalam vagina?mengalami keadaan seperti menabrak dinding?
  • Apakah pasangan Anda mengalami penolakan apabila akan dilakukan pemeriksaan dalam oleh dokter spesialis kandungan?

Apabila anda menjawab YA pada salah satu pertanyaan diatas, kemungkinan besar pasangan anda menderita Vaginismus.

Seputar Vaginismus

Vaginismus merupakan keadaan kakunya otot-otot pada area kewanitaan yang tidak disadari, sehingga penetrasi terhadap vagina tidak dapat terjadi. Keadaan ini bukanlah sesuatu yang dapat dikontrol oleh pasien, pasien tidak dapat mengendalikan hal itu.

Hingga saat ini, penyebab vaginismus belum diketahui secara pasti. Namun beberapa kondisi sering dikaitkan dengan munculnya vaginismus di kemudian hari, di antaranya adalah beberapa pemahaman yang keliru, yaitu:

  • Mempunyai persepsi buruk dan negatif terhadap seks
  • Latar belakang religius yang berlebihan, bahwa seks adalah dosa dan kotor
  • Vagina adalah bagian tubuh yang menjijikkan
  • Seks pertama kali akan sakit, menyebabkan cedera dan luka berdarah
  • Perasaan takut hamil, takut terkena penyakit kelamin
  • Persepsi bahwa vaginanya terlalu kecil

Vaginismus sebenarnya sudah diketahui sejak lama, sejarah pertama kali mencatat pada tahun 1547 di Italia. Saat ini diperkirakan ada 7-17% dari populasi di dunia yang mengidap vaginismus. Umumnya pasien merasa malu dan takut untuk berobat, mereka menganggap hal ini merupakan sebuah aib yang harus ditutup rapat-rapat. Tidak seperti penyakit ataupun keluhan lain yang membuat pasien ringan langkahnya untuk berobat, penyakit ini membuat pasien enggan untuk berobat, ataupun kapok untuk kembali berobat untuk mencari second opinion.

Sebagaimana penyakit-penyakit lain, vaginismus juga memiliki tingkatan/derajat keparahan. Derajat keparahan ini sangatlah penting untuk diketahui, karena menentukan jenis strategi penanganan serta antisipasi kesulitan dalam proses terapinya. Terdapat 5 tingkat keparahan vaginismus, yang merupakan gambaran reaksi pasien, yaitu :

  1. Derajat satu, yaitu kekakuan minimal, dapat membaik setelah ditenangkan dan diberi pengertian, pasien dapat dilakukan pemeriksaan dengan tenang tanpa rasa nyeri
  2. Derajat dua, yaitu kekakuan luas, tetap kaku setelah diberikan pengertian, pasien tidak dapat tenang saat pemeriksaan.
  3. Derajat tiga, kekakuan cukup parah, pasien akan mengangkat bokongnya untuk menghindari pemeriksaan.
  4. Derajat empat, pasien menarik diri, mengangkat bokong bergerak menjauh, menutup pahanya rapat-rapat untuk mencegah pemeriksaan apapun.
  5. Derajat lima, muncul reaksi tubuh menyeluruh, seperti peningkatan frekuensi denyut jantung, nafas tidak teratur, gemetar, mual muntah, menangis, pingsan, melompat dari meja pemeriksaan, melarikan diri, bahkan menyerang dokter pemeriksa.

Pada pasien vaginismus dengan derajat 1 atau 2, biasanya pasien akan dapat sembuh dalam waktu yang tidak terlalu lama, pasangan tidak sampai berobat ke dokter. Cukup dengan sikap pasangan yang pengertian, memberikan ketenangan dan dorongan, serta pemberian informasi yang bersifat koreksi terhadap pemahaman yang salah, dapat mengantisipasi keadaan ini dan akhirnya berhasil melakukan hubungan suami istri. Namun, pada pasien vaginismus yang derajat keparahannya lebih tinggi, walaupun sudah diberikan pengertian dan dorongan semangat yang cukup, kesulitan penetrasi itu tetap ada hingga bertahun-tahun.

Stigma Pada Vaginismus

Akibat kurangnya pemahaman terhadap vaginismus, seringkali pasien vaginismus menjadi pihak yang disalahkan oleh pemeriksa maupun pasangannya. Tak jarang pasien dianggap hanya “kurang tenang” atau “masalah pikiran saja” oleh banyak pihak. Tuduhan seperti itu sangat mengintimidasi dan merendahkan penderita vaginismus, kenyataannya mereka sudah menenangkan dirinya sendiri sekian lamanya dan penetrasi belum juga berhasil. 

Terapi Vaginismus

Walaupun banyak pihak menggolongkan vaginismus sebagai penyakit yang bersumber dari pikiran semata, tetapi pada kenyataannya merubah pemikiran pasien begitu saja tidak dapat menyembuhkan vaginismus. Secara fisik, pasien harus dibantu untuk dapat dilakukan penetrasi. Salah satu prosedur yang dapat dilakukan untuk pasien vaginismus adalah dengan dilatasi berbantu (upaya melatih melemaskan otot vagina tanpa operasi/sayatan), yang dapat memudahkan pasien untuk memulai dilakukan penetrasi. Dipelopori oleh seorang dokter spesialis bedah plastik di Amerika Serikat, yaitu Peter T.Pacik,MD.,FACS, dengan tingkat keberhasilan mencapai 90%, prosedur ini menyertakan penggunaan Botox® untuk dapat merelaksasi otot-otot yang mengalami kekakuan di bagian depan vagina (www.vaginismusmd.com / www.pacikvaginismus.com). Tidak hanya itu, untuk memastikan pasien ditangani secara menyeluruh, pasien juga akan diberikan konseling serta mentoring intensif oleh dokter agar program dilatasi progresif berjalan lancar dan tujuan lainnya (hubungan seks, memiliki anak) dapat tercapai sesegera mungkin.

Dampak Buruk Vaginismus Bagi Pasangan

Vaginismus memberikan dampak yang luar biasa bagi kedua pasangan. Bagi perempuan, keadaan ini menurunkan kualitas hidup secara signifikan, baik secara psikis maupun fisik. Penderita vaginismus akan mengalami kehidupan seksual yang kurang sehat, infertilitas (keadaan sulit memiliki anak), risiko depresi, dan gangguan kesehatan reproduksi yang sulit ditindaklanjuti. Bagi laki-laki, tidak bisa melakukan hubungan seksual secara sewajarnya dengan pasangan akan mengakibatkan dampak psikologis dengan persepsi penolakan, rasa bersalah, kesal, dan frustrasi. Besar kemungkinan keadaan negatif tersebut akan menyebabkan gangguan ereksi.

Vaginismus, penyebab sulit punya anak terselubung 

Pasangan dengan vaginismus akan mengalami kesulitan berlapis sebagai konsekuensi dari penyakitnya itu. Selain dari tidak berhasilnya melakukan hubungan seksual, juga akan jatuh ke keadaan sulit punya anak yang tidak dapat ditindaklanjuti oleh dokter. 

Dokter spesialis kandungan memerlukan pemeriksaan  menyeluruh terhadap pasien dengan keluhan sulit punya anak, dari mulai pemeriksaan dalam, hingga pemeriksaan USG melalui vagina, sayangnya pada penderita vaginismus pemeriksaan-pemeriksaan ini hampir mustahil bisa dilakukan. Dalam proses selanjutnya, seandainya diputuskan untuk dilakukan teknik reproduksi berbantu (seperti inseminasi atau bayi tabung), pemeriksaan USG transvagina dan penggunaan spekulum (alat untuk membuka rongga vagina) pun tetap diperlukan. Atas keadaan-keadaan itulah kasus vaginismus yang disertai dengan penyulit organ kandungan, seringkali terbengkalai dan tidak dapat ditindaklanjuti.

Yang sebaiknya pasangan lakukan:

Pasangan dari penderita vaginismus harus menjadi orang pertama yang memahami penderita secara menyeluruh. Dengan memberikan sikap yang pengertian dan mendukung, itu sudah lebih dari cukup untuk membangun semangat penyembuhan. Selain itu, segera periksakan diri ke dokter agar penanganan spesifik terhadap vaginismus bisa segera dilakukan. Mulailah berobat sesegera mungkin, karena usia reproduksi perempuan sangat terbatas, jangan sampai vaginismus yang tidak tertangani bertahun-tahun melampaui usia optimal seorang perempuan untuk dapat hamil secara aman dan sehat. Tujuan akhir terapi pada vaginismus adalah penetrasi dalam bentuk dan keadaan apapun dapat dilakukan secara lancar dan nyaman.

dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG

LinkedIn Profile

Support Vaginismus

Respect Vaginismus

*tulisan ini pernah dimuat di www.addamhealth.co – Tiara Kirana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *