HomeBlogInformasi5 Fakta Terkait Vaginismus

5 Fakta Terkait Vaginismus

Vaginismus merupakan keadaan kakunya otot-otot pada vagina dan sekitarnya sehingga menyebabkan vagina tidak memungkinkan untuk dilakukan penetrasi (ADDAM for Her – Vaginismus). Karakteristik utama pasien adalah sudah menikah, namun belum berhasil melakukan hubungan seks dengan penetrasi. Berikut ini 5  fakta terkait vaginismus :

1| VAGINISMUS PERTAMA KALI TERCATAT PADA TAHUN 1547

Pada awal abad ke-20 ditemukan sebuah catatan kedokteran dari tahun 1547 yang dibuat oleh “Trotula de Ruggiero”, sekelompok dokter yang mengkhususkan pelayanannya terhadap kesehatan perempuan di daerah Salerno, Italia. Catatan ilmiah yang berjudul “Penyakit-penyakit Perempuan” ini mencantumkan sebuah fenomena yang sangat mengejutkan, dengan kutipan sebagai berikut :

Terjadi kekakuan yang hebat pada daerah depan kemaluan wanita, bahkan sekalipun wanita tersebut terangsang secara seksual, ia tetap masih perawan

2| VAGINISMUS BUKAN HANYA MASALAH PSIKOLOGIS, TETAPI JUGA MASALAH FISIK

Vaginismus memang bukanlah sebuah penyakit yang terlihat begitu saja secara fisik, sehingga tak jarang kondisi ini dikaitkan hanya dengan “faktor pikiran”. Hal itu tidak sepenuhnya benar, karena vaginismus juga melibatkan faktor fisik yang cukup signifikan. Kaku otot dan keketatan area vagina yang menyebabkan penetrasi sulit terjadi membuktikan bahwa faktor fisik juga berperan pada vaginismus. 

Dari sudut pandang fisik, merujuk kepada ICD (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems) -sebuah pedoman klasifikasi penyakit yang dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization)- vaginismus berkode klasifikasi N94.2, dengan definisi sebuah keadaan kaku otot pada vagina dan sekitarnya terkait proses masuknya benda ke vagina (penetrasi).

3| VAGINISMUS SERING DIREMEHKAN

Hingga saat ini pemahaman terhadap vaginismus masih sangat terbatas, baik oleh masyarakat umum maupun oleh petugas kesehatan. Hal ini dikarenakan vaginismus tidak kasat mata sebagaimana penyakit-penyakit lainnya, sehingga seringkali vaginismus dianggap tidak nyata oleh orang-orang di sekitarnya. 

Penderita vaginismus tidak dipercaya atas keluhannya dan dianggap hanya mengada-ada atas keadaan tidak bisa dilakukan penetrasi itu.

“Ah masa begitu saja nggak bisa sih??”, contoh perkataan yang sering dilontarkan kepada penderita vaginismus.

Bahkan di tempat pelayanan kesehatan saat pasien mencari upaya pengobatan, tak jarang penderita vaginismus hanya dianggap tidak mau bekerja sama atau kurang cukup tenang untuk menghadapi pemeriksaan.

 

“Ibu, ini hanya kurang tenang, pikirannya mesti tenang”, ucapan semacam ini merupakan respon yang didapatkan oleh pasien vaginismus (ADDAM for Her   TOLONG! Jangan katakan ini pada pasien vaginismus)

4| VAGINISMUS MENGHAMBAT PROGRAM HAMIL

Dengan adanya kesulitan penetrasi, penderita vaginismus sebagian besar akan mengalami keadaan infertilitas atau sulit punya anak. 

Dokter spesialis kandungan dalam upayanya untuk menindaklanjuti hal tersebut, memerlukan beberapa pemeriksaan untuk menunjang keberhasilan program hamil, salah satunya adalah pemeriksaan ultrasonografi (USG) dengan akses dari dalam vagina (USG transvagina). 

Prosedur ini bertujuan untuk memantau dan menentukan program hamil, agar pasien ada dalam kondisi terbaik dan kemungkinan tertinggi untuk dapat hamil. Tanpa penggunaan alat tersebut, upaya program hamil menjadi tidak optimal. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada kenyataannya pasien vaginismus sulit dilakukan penetrasi, maka USG transvagina ini pun sulit dilakukan pada pasien vaginismus.

5| VAGINISMUS DAPAT DISEMBUHKAN

Pasien vaginismus biasanya merasakan keadaan bingung dan pesimis akan keadaannya, selain tidak bisa mengalami penetrasi saat berhubungan seks, ia juga sering merasa tertekan akibat belum kunjung punya anak. 

Saat ini seiring dengan pemahaman terhadap vaginismus yang semakin tinggi, ada upaya jalan keluar bagi penderita vaginismus, bahkan pada pasien yang dengan derajat keparahan (ADDAM for Her – Vaginismus) yang tinggi sekalipun.

Strategi penyembuhan vaginismus sangat beragam, tergantung dari derajat keparahannya. Pada semua pasien vaginismus, dilatasi (memasukkan benda berupa dilator atau jari dengan tujuan melebarkan rongga vagina) adalah hal yang paling penting untuk dilakukan agar segera sembuh dari vaginismus.

Bagi penderita vaginismus berderajat ringan, seiring waktu dan kesabaran pasangan, pasien akhirnya dapat dilakukan penetrasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tidak hanya itu, bagi pasien yang dapat memulai dan berlatih dilatasi sendiri secara terus menerus, juga akan dapat dilakukan penetrasi secara normal.

Namun pada pasien yang kurang beruntung dengan derajat keparahan lebih tinggi, proses penyembuhan haruslah diawali dengan bantuan khusus agar penetrasi dapat terjadi dan berkelanjutan. 

Program Botox® Ginekologis dapat membantu mengawali proses penyembuhan vaginismus. Program ini terdiri dari serangkaian prosedur, yaitu dilatasi progresif, penyuntikkan Botox® (obat yang dapat melemahkan kaku otot vagina), serta dilatasi berbantu pasca prosedur (Program Terapi Botox® Ginekologis).

Selain itu, yang tidak kalah penting dari program penyembuhan ini adalah sesi konseling intensif yang bertujuan untuk memandu pasien agar dapat berdilatasi mandiri dan berkelanjutan, serta membangun persepsi positif tentang hubungan seks dan organ-organ kewanitaan.

dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG

LinkedIn Profile

Support Vaginismus

Respect Vaginismus

*tulisan ini pernah dimuat di www.addamhealth.co – Tiara Kirana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *