HomeBlogInformasiApakah Saya Kurang Jantan?

Apakah Saya Kurang Jantan?

Saat seorang penderita vaginismus berobat, saya selalu bertanya tentang pasangan/suaminya, karena bagi saya pasien vaginismus bukan hanya perempuan penderitanya saja, namun juga pasangannya. Saya menangani keduanya dalam proses penyembuhan vaginismus.

Salah seorang pasien memberikan jawaban yang cukup mengagetkan, sehingga saya merasa perlu untuk membuat artikel ini.

Berikut pembicaraan kami sekitar 2 bulan yang lalu di dalam ruang praktik saya,

Dokter : “Koq sendirian Bu?Bapak kemana?sedang tugas ya? “

Pasien  : “Tidak dok, dia ada di rumah, dia malu dok”

Dokter : “Loh kenapa malu Bu?”

Pasien  : “Suami saya malu, sudah bertahun-tahun menikah tapi

                           tetap belum bisa memasukkan penisnya, dia merasa

                           tidak jantan”

Awalnya saya cukup kaget namun pada akhirnya saya memahami, ternyata masuk akal juga yang disampaikan ibu ini, lalu saya menjelaskannya hingga dia mengerti.

VAGINISMUS DARI SUDUT PANDANG LAKI-LAKI, APAKAH SAYA KURANG JANTAN ??

Vaginismus adalah keadaan seorang wanita tidak bisa dilakukan penetrasi pada vaginanya, dengan kata lain tidak ada sesuatu benda pun yang dapat masuk ke vagina. Gambaran umum penderita vaginismus adalah sebagai berikut :

  • Kekakuan otot vagina sehingga vagina tidak bisa dimasuki
  • Perasaan tegang atau nyeri saat penetrasi terjadi
  • Menghindari aktivitas seksual maupun penetrasi bentuk lainnya karena kuatir akan nyeri
  • Rasa takut berlebih terhadap nyeri vagina

 

Hubungan seksual yang normal disertai dengan masuknya alat kelamin laki-laki ke vagina, tidak dapat dilakukan karena saat kemaluan pria akan masuk ke vagina, kekakuan pada otot-otot vagina dan sekitarnya muncul tanpa penderita vaginismus sadari dan tanpa bisa mereka kendalikan.

 

Muncul pertanyaan yang sebenarnya cukup beralasan bagi pria, apakah ini merupakan sebuah manifestasi dari kurangnya kemampuan dalam hubungan seks?Apakah kurang jantan?

 

Jawabannya :

TIDAK, SAMASEKALI BUKAN!

 

Tidak terjadinya penetrasi penis ke dalam vagina, bukanlah wujud dari kurang mampunya pasangan laki-laki dalam melakukan hubungan seks. Hal ini terjadi karena vagina penderita vaginismus tidak memungkinkan menerima penetrasi dalam bentuk apapun.

 

Contoh lain dari bentuk penetrasi vagina adalah penggunaan tampon, pemeriksaan dalam oleh dokter kandungan, pemeriksaan USG melalui alat yang dimasukkan ke vagina, kesemuanya itu pun tidak dapat terjadi pada pasien vaginismus, bahkan jari penderita sendiri sangat sulit untuk dimasukkan.

 

Kurangnya pengetahuan mengenai masalah seksual pada wanita terlebih vaginismus, seringkali membuat konflik antara suami istri hingga menyebabkan gangguan seksual sekunder pada pria. 

 

Gangguan seksual sekunder adalah gangguan seksual yang terjadi pada seseorang karena masalah seksual yang dialami pasangannya. Gangguan ereksi adalah keluhan yang banyak dikeluhkan pada pria dengan pasangan yang memiliki masalah vaginismus.

Kegagalan tiap penetrasi dapat menyebabkan stress, kecewa, marah dan penurunan percaya diri hingga merasa tidak cukup jantan untuk melakukan penetrasi. Kondisi ini secara terus menerus dapat menyebabkan gangguan disfungsi ereksi psikogenik.

Bila sampai terjadi kondisi seperti ini, akan lebih baik bila pasien vaginismus diterapi bersama dokter ObGyn dan dokter Andrologi agar terapi berjalan bersamaan.

 

Jadi, bagi para lelaki yang pasangannya menderita vaginismus, Anda bukanlah kurang jantan. Namun, bukan berarti permasalahan hanyalah pada wanita. Semua masalah seksual selayaknya merupakan masalah bersama para pasangan. Pengertian dan saling mendukung merupakan kunci utama mendorong penyembuhan berbagai gangguan seksual.

dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG

LinkedIn Profile

Support Vaginismus

Respect Vaginismus

*tulisan ini pernah dimuat di www.addamhealth.co – Tiara Kirana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *