HomeBlogInformasiJangan Ucapkan Ini Pada Penderita Vaginismus!

Jangan Ucapkan Ini Pada Penderita Vaginismus!

Vaginismus merupakan keadaan kakunya otot-otot di area kewanitaan sehingga tidak memungkinkan terjadinya penetrasi. Gambaran terbanyak dari keadaan pasien dengan vaginismus adalah keluhan belum pernah bisa melakukan hubungan seksual walaupun sudah menikah bertahun-tahun.

Vaginismus merupakan penyakit yang berkaitan erat dengan kondisi psikologis pasien, tidak seperti penyakit lain yang bisa begitu saja terlihat pada tubuh pasien atau pada pemeriksaan penunjang seperti misalnya pemeriksaan darah, foto x-ray/rontgen, maupun alat USG (ultrasonografi). 

Pada penyakit-penyakit yang lain, wujud gejala akan mudah dilihat dan dinyatakan keberadaannya. Misalnya saja penyakit demam berdarah, pada tubuh pasien akan terdapat gejala demam dan dari pemeriksaan darah diketahui kadar trombositnya rendah. Contoh lain pada kehamilan, kantung kehamilan serta keberadaan janin dapat dikonfirmasi dengan membesarnya perut ibu, serta pada pemeriksaan USG terlihat gambaran yang sangat spesifik. Pada penyakit tekanan darah tinggi, dengan mudah pada alat tensimeter terlihat angka yang menggambarkan nilai tekanan darah pasien pada saat diperiksa. Tidak demikian dengan vaginismus yang keberadaannya hanya bisa diketahui dari pengakuan pasien dan pengamatan dokter yang spesifik. Walaupun kekakuan otot bisa dilihat oleh pemeriksa, tetapi belum ada alat bantu yang bisa menggambarkan keadaan ini. Walaupun demikian, vaginismus itu benar adanya, hanya karena belum ada alat bantu untuk menggambarkan kekakuan vaginismus, bukan berarti vaginismus bisa disangkal keberadaannya. 

Oleh orang di sekitarnya, pasien vaginismus seringkali tidak dipercaya atas kondisi yang dialami. Ketidakmampuan penderita dalam mentoleransi pemeriksaan kandungan, membuat pasien seringkali diragukan bahkan disudutkan. Mereka sering disepelekan dengan hanya dianggap sedang tidak mau dilakukan pemeriksaan atau dianggap sedang tidak tenang.

Berikut ini kalimat-kalimat yang sebaiknya dihindari ketika berbicara kepada penderita vaginismus.

 

Ah, itu hanya pikiran kamu aja

Vaginismus bukanlah kondisi yang dapat dikendalikan secara sadar oleh penderitanya. Keadaan itu bukanlah kondisi yang diinginkan pasien atau dibuat-buat oleh pasien.

Ini hanya kurang tenang aja

Setenang apapun seorang pasien vaginismus, kekakuan ototnya tetap ada, sepanik apapun pasien yang tidak vaginismus, penetrasi tetap bisa dilakukan.

Masa begitu aja nggak bisa sih?

Menganggap pasien tidak mau bekerja sama, seolah-olah keadaan ini di-setting oleh pasien sangatlah meremehkan pasien. Percayalah, mereka tidak menginginkannya.

Yang lain juga bisa kok!

Pasien vaginismus adalah pasien yang tidak menginginkan kondisi itu terjadi pada dirinya , perkataan membandingkan semacam itu samasekali tidak membantu pasien.

Ini cuman awalnya aja, lama-lama juga biasa, seks itu enak lo!

Seolah-olah anggapan semacam ini wajar, padahal ini sangat merendahkan penderita vaginismus. Penderita vaginismus mengalami masalah pada kesulitan terjadinya penetrasi, bukan pada rendahnya gairah seks atau respon atas rangsangan seksual yang ada. Itu sama sekali masalah yang berbeda.

Rileks aja dong!

Mungkinkah penderita vaginismus bertahun-tahun hidupnya tidak rileks secara terus menerus? Anggapan seorang penderita vaginismus tidak tenang saat akan dilakukan pemeriksaan adalah sesuatu yang sangat tidak relevan. Dia pasti sudah menenangkan diri, namun vaginismusnya memang ada dan penetrasi tidak dapat terjadi.

Dengan kita menghindari mengucapkan kalimat-kalimat di atas, kita telah membantu penderita vaginismus.

Let’s become “vaginismus friendly

dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG

LinkedIn Profile

Support Vaginismus

Respect Vaginismus

*tulisan ini pernah dimuat di www.addamhealth.co – Tiara Kirana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *